Wahai manusia ! Sungguh telah datang
pada kalian bulan ALLAH dengan membawa berkah, rahmat, dan magfirah. bulan yang
paling mulia di sisi ALLAH.
Hari-harinya adalah hari-hari yang
paling utama.
Malam-malamnya adalah malam-malam yang
paling
utama.
Jam demi jamnya adalah jam-jam yang
paling utama. Inilah ketika kamu di undang menjadi tamu ALLAH dan dimuliakan
oleh-Nya.
Di bulan ini nafas-nafasmu menjadi
tasbih.
Tidurmu ibadah, amal-amalmu diterima dan
doa-doamu di
ijabah.
Memohonlah kepada ALLAH Rabbmu dengan
niat yang tulus dan hati yang suci agar ALLAH membimbingmu untuk melakukan shiyam
dan membaca kitab-Nya (alquran dan Hadist).
Celakalah orang yang tidak mendapat
ampunan ALLAH di
bulan yang agung ini.
Kenanglah dengan rasa lapar dan hausmu,
kelaparan dan kehausan di hari kiamat.
Bersedekahlah kepada kaum fuqara dan
masakin.
Muliakanlah orang tuamu, sayangilah yang
muda,
Sambungkanlah tali persaudaraanmu
Jaga lidahmu, tahan pandanganmu dari apa
yang tidak
halal kamu memandangnya dan
pendengaranmu dari apa
yang tidak halal kamu mendengarnya.
Kasihilah anak-anak yatim, niscaya dikasihi
manusia anak-
anak yatimmu. (maksudnya adalah
jika suatu saat kita
menjadi anak yatim insya allah akan
dikasihani oleh
manusia yang lain)
Bertaubatlah
kepada ALLAH dari dosa-dosamu. Angkatlah tangan-tanganmu untuk berdoa pada
waktu sholatmu. karena itu saat-saat yang paling utama ketika ALLAH memandang
hamba-hambaNya, menyambut mereka ketika mereka memanggil-Nya dan mengabulkan
doa mereka ketika mereka berdoa kepada-Nya.(musahadah)
Wahai manusia! sesungguhnya
diri-dirimu tergadai karena
amal-amalmu, maka bebaskanlah
dengan istigfar.
Punggung-punggungmu berat karena
dosamu. Maka
ringankanlah dengan memperpanjang
sujudmu. (tahajud)
Ketahuilah! ALLAH bersumpah dengan
segala kebesaran-Nya bahwa Dia tidak akan mengazab orang-orang yang solat dan
sujud, dan tidak akan mengancam mereka dengan neraka pada hari manusia berdiri
dihadapan Rabbul-alamin.(orang yang mendirikan solat bukan solat sambil
berdiri)
Wahai manusia! Barangsiapa
diantaramu memberi buka kepada orang-orang mukmin yang shiyam di bulan ini,
maka disisi ALLAH nilainya sama dengan membebaskan seorang budak dan dia diberi
ampunan atas dosa-dosa yang telah lalu. Sahabat-sahabat Rasulullah bertanya :
“ya Rasulullah tidaklah kami semua mampu berbuat demikian? “ Rasulullah menjawab
“ jagalah dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan sebiji kurma. Jagalah
dirimu dari api neraka walaupun hanya dengan seteguk air.(amal sholeh)
Wahai manusia! Siapa yang
membaguskan akhlaknya di bulan ini ia akan berhasil melewati shirathol mustaqim
pada hari ketika kaki-kaki tergelincir. Siapa yang meringankan pekerjaan
orang-orang yang dimiliki tangan kanannya (pegawai atau pembantu) di bulan ini,
ALLAH akan meringankan pemeriksaannya di hari kiamat. Barangsiapa menahan
kejelekannya di bulan ini, ALLAH akan menahan murka-Nya pada hari ia berjumpa
dengan-Nya. Barang siapa memuliakan anak yatim di bulan ini, ALLAH akan
memuliakannya pada hari ia berjumpa dengan-Nya.(sikap dan sifat terpuji)
Barangsiapa menyambungkan tali
persaudaraan
(silaturahmi) di bulan ini, ALLAH
akan menghubungkan
dia dengan rahmat-Nya pada hari ia
berjumpa dengan-Nya.
Barangsiapa memutuskan tali silaturahmi di bulan ini,
ALLAH akan memutuskan rahmat-Nya
pada hari ia
berjumpa dengan-Nya.
Barangsiapa melakukan shalat sunat
di bulan ini, ALLAH
akan menuliskan baginya kebebasan
dari api neraka.
Barang siapa melakukan shalat
fardlu baginya ganjaran
seperti melakukan 70 shalat fardlu
di bulan lain.
Barangsiapa memperbanyak shalawat
kepadaku dibulan
ini, ALLAH akan memberatkan
timbangan-Nya pada hari
ketika timbangannya ringan.
Barangsiapa di bulan ini membaca
satu ayat Al-qur’an,
ganjarannya mengkhatamkan Al-qur’an
pada bulan-bulan
yang lain.
Wahai manusia! Sesungguhnya
pintu-pintu surga dibukakan bagimu, maka mintalah kepada ALLAH agar tidak
pernah menutupkannya bagimu.
Pintu-pintu neraka tertutup, maka
mohonlah kepada Rabbmu untuk tidak pernah dibukakan bagimu.
Setan-setan terbelenggu, maka mintalah
agar ia tak lagi pernah menguasaimu. Amirul mukminin berkata; “Aku berdiri dan
berkata : “ya Rasulullah ! apa amal yang paling utama di bulan ini ?” Rasul
menjawab ; “ya Abal Hasan ! amal yang paling utama dibulan ini adalah menjaga
diri dari apa yang diharamkan ALLAH.”
Wahai manusia, sesungguhnya kamu
akan dinaungi oleh bulan yang senantiasa besar lagi penuh keberkahan, yaitu
bulan yang didalamnya ada suatu malam yang lebih baik dari seribu bulan, bulan
yang ALLAH telah menjadikan shiyam sesuatu yang fardlu, dan qiyam di malam
harinya suatu tathawu’. (shalat tathawu adalah semua shalat yang disyariatkan dalam
agama islam, selain shalat wajib 3 waktu, baik yang hukumnya wajib atau sunnah)
Barangsiapa mendekatkan diri kepada
ALLAH dengan suatu pekerjaan kebajikan di dalamnya, samalah dia dengan orang
yang menunaikan suatu fardlu di dalam bulan yang lain.
Ramadhan itu adalah bulan sabar,
sedangkan sabar itu adalah pahalanya surga. Ramadhan itu adalah bulan memberi
pertolongan (syahrul muwasah) dan bulan ALLAH memberikan rezeki mukminin di
dalamnya.
Barangsiapa memberikan makan berbuka
seseorang yang sedang shiyam, adalah yang demikian itu merupakan pengampunan
bagi dosanya dan kemerdekaan dirinya dari neraka.
Orang yang memberikan makanan itu memperoleh
pahala seperti orang yang shiyam tersebut tanpa sedikitpun berkurang. Para
sahabat berkata, “Ya Rasulullah, tidaklah kami semua memiliki makanan berbuka shiyam
untuk orang lain yang sedang shiyam.” Maka Rasul SAW bersabda, “Allah
memberikan pahala kepada orang yang memberikan sebutir kurma, atau seteguk air,
atau segelas susu.
Dialah bulan yang permulaannya
Rahmat, pertengahannya Ampunan dan akhirnya Pembebasan dari Neraka. Barangsiapa
meringankan beban dari budak sahaya (termasuk pembantu rumah) niscaya Allah
mengampuni dosanya dan membebaskannya dari neraka.
Oleh karena itu perbanyaklah empat
perkara di bulan Ramadhan; Dua perkara untuk mendatangkan keridhaan Allah, dan
dua perkara lagi yang sangat didambakan.
Dua
perkara yang pertama ialah mengakui dengan sesungguhnya bahwa tidak ada Tuhan
selain ALLAH dan mohon ampunan kepada-Nya.
Dua
perkara yang kedua yang kamu sangat memerlukannya ialah memohon surga dan
perlindungan-Nya dari neraka.
Barangsiapa memberi minum kepada
orang berbuka shiyam, niscaya Allah akan memberi minum kepadanya dari air
kolam-Nya (telaga Al-Kautsar) dengan suatu minuman yang dia tidak merasakan
haus lagi sesudahnya, sehingga dia masuk kedalam surga.
(HR. Ibnu Huzaimah).
Tambahan :
Marilah
kita niatkan shiyam kita di bulan suci Ramadhan ini hanya untuk taqarub
(mendekatkan diri) pada Allah semata agar menghasilkan buah yang baik yang
dijanjikan Allah SWT.
Amin
Ya Rabbal Alamin.
Hal-hal
yang menghilangkan pahala shiyam ;
1. Gibah
(Membicarakan keburukan orang lain) 49:12
2. Namimah
(Mengadu domba)
3. Kidjib
(Bohong)
4. Sumpah
palsu.
5. Memandang
lawan jenis dengan syahwat.
6. Ghodob
(Marah)
Ayat-Ayat
Shaum dan Shiyam
1.
Shauman lihat bahasa arabnya
19:26. Maka makan, minum dan bersenang hatilah kamu.
Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah: "Sesungguhnya aku
telah bernazar Shaum untuk Allah
Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusiapun pada
hari ini."
1. Shiyam lihat bahasa arabnya
2:183. Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas
kamu Shiyam sebagaimana diwajibkan
atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.
2. 2:184
(yaitu) dalam beberapa hari yang tertentu. Maka
barangsiapa diantara kamu ada yang sakit atau dalam perjalanan (lalu ia
berbuka), maka (wajiblah baginya Shiyam)
sebanyak hari yang ditinggalkan itu pada hari-hari yang lain. Dan wajib bagi
orang-orang yang berat menjalankannya (jika mereka tidak Shiyam) membayar fidyah, (yaitu): memberi makan seorang miskin.
Barangsiapa yang dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan[114],
maka itulah yang lebih baik baginya. Dan Shiyam
lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.
3. 2:185
(Beberapa hari yang ditentukan itu ialah) bulan
Ramadhan, bulan yang di dalamnya diturunkan (permulaan) Al Quran sebagai
petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan
pembeda (antara yang hak dan yang bathil). Karena itu, barangsiapa di antara
kamu hadir (di negeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia Shiyam pada bulan itu, dan barangsiapa
sakit atau dalam perjalanan (lalu ia berbuka), maka (wajiblah baginya Shiyam), sebanyak hari yang
ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan
bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Dan hendaklah kamu mencukupkan
bilangannya dan hendaklah kamu mengagungkan Allah atas petunjuk-Nya yang diberikan
kepadamu, supaya kamu bersyukur.
4. 2:187
Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa
bercampur dengan isteri-isteri kamu; mereka adalah pakaian bagimu, dan kamupun
adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan
nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi ma'af kepadamu. Maka
sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah
untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang
hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah Shiyam itu sampai malam, (tetapi) janganlah kamu campuri mereka
itu, sedang kamu beri'tikaf[115] dalam mesjid. Itulah
larangan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan
ayat-ayat-Nya kepada manusia, supaya mereka bertakwa
5. 2:196
Dan sempurnakanlah ibadah haji dan 'umrah karena
Allah. Jika kamu terkepung (terhalang oleh musuh atau karena sakit), maka
(sembelihlah) korban[120] yang mudah didapat, dan jangan kamu
mencukur kepalamu[121], sebelum korban sampai di tempat
penyembelihannya. Jika ada di antaramu yang sakit atau ada gangguan di
kepalanya (lalu ia bercukur), maka wajiblah atasnya berfid-yah, yaitu: Shiyam atau bersedekah atau berkorban.
Apabila kamu telah (merasa) aman, maka bagi siapa yang ingin mengerjakan 'umrah
sebelum haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah
didapat. Tetapi jika ia tidak menemukan (binatang korban atau tidak mampu),
maka wajib Shiyam tiga hari dalam
masa haji dan tujuh hari (lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah
sepuluh (hari) yang sempurna. Demikian itu (kewajiban membayar fidyah) bagi
orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram
(orang-orang yang bukan penduduk kota Mekah). Dan bertakwalah kepada Allah dan
ketahuilah bahwa Allah sangat keras siksaan-Nya.
6. 4:92
Dan tidak layak bagi seorang mukmin membunuh seorang
mukmin (yang lain), kecuali karena tersalah (tidak sengaja)[334],
dan barangsiapa membunuh seorang mukmin karena tersalah (hendaklah) ia
memerdekakan seorang hamba sahaya yang beriman serta membayar diat[335]
yang diserahkan kepada keluarganya (si terbunuh itu), kecuali jika mereka
(keluarga terbunuh) bersedekah[336]. Jika ia (si terbunuh)
dari kaum (kafir) yang ada perjanjian (damai) antara mereka dengan kamu, maka
(hendaklah si pembunuh) membayar diat yang diserahkan kepada keluarganya (si
terbunuh) serta memerdekakan hamba sahaya yang beriman. Barangsiapa yang tidak
memperolehnya[337], maka hendaklah ia (si pembunuh) Shiyam dua bulan berturut-turut untuk
penerimaan taubat dari pada Allah. Dan adalah Allah Maha Mengetahui lagi Maha
Bijaksana.
7. 5:95
Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu membunuh
binatang buruan[436], ketika kamu sedang ihram. Barangsiapa
di antara kamu membunuhnya dengan sengaja, maka dendanya ialah mengganti dengan
binatang ternak seimbang dengan buruan yang dibunuhnya, menurut putusan dua
orang yang adil di antara kamu sebagai had-yad[437] yang
dibawa sampai ke Ka'bah[438] atau (dendanya) membayar
kaffarat dengan memberi makan orang-orang miskin[439] atau Shiyam seimbang dengan makanan yang
dikeluarkan itu[440], supaya dia merasakan akibat buruk dari
perbuatannya. Allah telah memaafkan apa yang telah lalu[441].
Dan barangsiapa yang kembali mengerjakannya, niscaya Allah akan menyiksanya.
Allah Maha Kuasa lagi mempunyai (kekuasaan untuk) menyiksa.
8. 5:89
Allah tidak menghukum kamu disebabkan sumpah-sumpahmu
yang tidak dimaksud (untuk bersumpah), tetapi Dia menghukum kamu disebabkan
sumpah-sumpah yang kamu sengaja, maka kaffarat (melanggar) sumpah itu, ialah
memberi makan sepuluh orang miskin, yaitu dari makanan yang biasa kamu berikan
kepada keluargamu, atau memberi pakaian kepada mereka atau memerdekakan seorang
budak. Barang siapa tidak sanggup melakukan yang demikian, maka kaffaratnya Shiyam selama tiga hari. Yang demikian
itu adalah kaffarat sumpah-sumpahmu bila kamu bersumpah (dan kamu langgar). Dan
jagalah sumpahmu. Demikianlah Allah menerangkan kepadamu hukum-hukum-Nya agar
kamu bersyukur (kepada-Nya).
9. 33:35
Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim,
laki-laki dan perempuan yang mukmin[1218], laki-laki dan
perempuan yang tetap dalam ketaatannya, laki-laki dan perempuan yang benar,
laki-laki dan perempuan yang sabar, laki-laki dan perempuan yang khusyuk,
laki-laki dan perempuan yang bersedekah, laki-laki dan perempuan yang Shiyam, laki-laki dan perempuan yang
memelihara kehormatannya, laki-laki dan perempuan yang banyak menyebut (nama)
Allah, Allah telah menyediakan untuk mereka ampunan dan pahala yang besar.
10. 58:4
Barangsiapa yang tidak mendapatkan (budak), maka
(wajib atasnya) Shiyam dua bulan
berturut-turut sebelum keduanya bercampur. Maka siapa yang tidak kuasa
(wajiblah atasnya) memberi makan enam puluh orang miskin. Demikianlah supaya
kamu beriman kepada Allah dan Rasul-Nya. Dan itulah hukum-hukum Allah, dan bagi
orang kafir ada siksaan yang sangat pedih.
11. 66:5
Jika Nabi menceraikan kamu, boleh jadi Tuhannya akan
memberi ganti kepadanya dengan isteri yang lebih baik daripada kamu, yang
patuh, yang beriman, yang taat, yang bertaubat, yang mengerjakan ibadat, yang Shiyam, yang janda dan yang perawan.
Khutbah Rasul SAW Menjelang Ramadhan - Dari Salman
al-Farisi ra. ia berkata bahwa Rasulullah SAW di akhir bulan
Sya`ban berkhutbah kepada kami, beliau bersabda, "Wahai manusia, telah
datang kepada kalian bulan yang agung dan penuh berkah. Di dalamnya terdapat
satu malam yang nilai (ibadah) di dalamnya lebih baik dari 1. 000 bulan.
Allah menjadikan puasa pada siang harinya sebagai sebuah kewajiban, dan
menghidupkan malamnya sebagai perbuatan sunnah (tathawwu`).
Barangsiapa (pada bulan itu) mendekatkan diri (kepada Allah) dengan satu kebaikan,
ia seolah-olah mengerjakan satu ibadah wajib pada bulan yang lain.
Barangsiapa yang mengerjakan satu perbuatan wajib, ia seolah-olah mengerjakan 70
kebaikan di bulan yang lain.
Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan kesabaran itu balasannya surga. Ia (juga) bulan tolong-menolong, di mana di dalamnya rezki seorang Mukmin bertambah (ditambah).
Barangsiapa (pada bulan itu) memberikan bukaan kepada seorang yang berpuasa, maka itu menjadi maghfirah (pengampunan) atas dosa-dosanya, penyelamatnya dari api neraka dan ia memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa (itu) sedikitpun." Kemudian para Sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, tidak semua dari kita memiliki makanan untuk diberikan sebagai bukaan orang yang berpuasa." Rasulullah SAW berkata, " Allah memberikan pahala tersebut kepada orang yang memberikan bukaan dari sebutir kurma, atau satu teguk air atau sedikit susu. Ramadhan adalah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya maghfirah (ampunan) dan akhirnya pembebasan dari api neraka." (HR Baihaqî)
Khutbah Nabi SAW yang diriwayatkan dari seorang Sahabat mulia, Salman al-Farisi di atas mengandung (secara implisit) beberapa stimulan dalam menyongsong bulan Ramadhan. Nabi SAW dalam khutbahnya tersebut menginginkan agar umat Islam benar-benar memahami kualitas tamu agung yang akan mendatangi umat Islam ini. Stimulan dalam khutbah di atas dapat dijabarkan dalam beberapa poin:
Pertama, bulan Ramadhan merupakan bulan yang agung dan penuh keberkahan. Keagungan dan keberkahan bulan ini dapat dilihat dari penghormatan Allah terhadapnya. Allah menurunkan Al-Qur'an di dalamnya. Selain itu, ada sebuah fenomena yang cukup berbeda jika dibandingkan dengan bulan-bulan yang lainnya, di mana hati setiap Mukmin tergerak untuk bersedekah lebih banyak, membaca Al-Qur'an lebih getol, dan qiyamullail. Sehingga dapat dikatakan bahwa Ramadhan merupakan 'musim seminya' Al-Qur'an. Lebih dari itu semua, keagungan dan keberkahan Ramadhan karena memiliki satu malam yang nilai ibadah di dalamnya lebih baik dari 1.000 bulan, yakni malam Laitul Qadar. Hal ini secara gamblang dijelaskan oleh Allah SWT: "Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur'an pada malam Laitul Qadar. Tahukah kalian apa Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbitnya fajar." (Qs. Al-Qadr [97]: 1-5). Sungguh, malam Lailatul Qadar itu merupakan bonus ibadah bagi setiap Mukmin. Secara matematis, 1.000 bulan itu sekitar 84 tahun. Padahal umur manusia (umat Islam) jarang yang mencapai angka itu. Tapi, jika ibadah pada malam Lailatul Qadar itu benar-benar (dilakukan) karena mengharap ridha Allah, maka nilainya lebih baik dari ibadah yang dilakukan selama 1.000 bulan. Oleh karena itu, Nabi SAW memberikan contoh bagaimana agar setiap Muslim bersungguh-sungguh beribadah di sepuluh akhir Ramadhan. Dalam Hadits yang diriwayatkan dari Aisyah ra. beliau bersabda, "Carilah malam Lailatul Qadar itu pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir
Barangsiapa (pada bulan itu) mendekatkan diri (kepada Allah) dengan satu kebaikan,
ia seolah-olah mengerjakan satu ibadah wajib pada bulan yang lain.
Barangsiapa yang mengerjakan satu perbuatan wajib, ia seolah-olah mengerjakan 70
kebaikan di bulan yang lain.
Ramadhan adalah bulan kesabaran, dan kesabaran itu balasannya surga. Ia (juga) bulan tolong-menolong, di mana di dalamnya rezki seorang Mukmin bertambah (ditambah).
Barangsiapa (pada bulan itu) memberikan bukaan kepada seorang yang berpuasa, maka itu menjadi maghfirah (pengampunan) atas dosa-dosanya, penyelamatnya dari api neraka dan ia memperoleh pahala seperti orang yang berpuasa itu, tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa (itu) sedikitpun." Kemudian para Sahabat berkata, "Wahai Rasulullah, tidak semua dari kita memiliki makanan untuk diberikan sebagai bukaan orang yang berpuasa." Rasulullah SAW berkata, " Allah memberikan pahala tersebut kepada orang yang memberikan bukaan dari sebutir kurma, atau satu teguk air atau sedikit susu. Ramadhan adalah bulan yang permulaannya rahmat, pertengahannya maghfirah (ampunan) dan akhirnya pembebasan dari api neraka." (HR Baihaqî)
Khutbah Nabi SAW yang diriwayatkan dari seorang Sahabat mulia, Salman al-Farisi di atas mengandung (secara implisit) beberapa stimulan dalam menyongsong bulan Ramadhan. Nabi SAW dalam khutbahnya tersebut menginginkan agar umat Islam benar-benar memahami kualitas tamu agung yang akan mendatangi umat Islam ini. Stimulan dalam khutbah di atas dapat dijabarkan dalam beberapa poin:
Pertama, bulan Ramadhan merupakan bulan yang agung dan penuh keberkahan. Keagungan dan keberkahan bulan ini dapat dilihat dari penghormatan Allah terhadapnya. Allah menurunkan Al-Qur'an di dalamnya. Selain itu, ada sebuah fenomena yang cukup berbeda jika dibandingkan dengan bulan-bulan yang lainnya, di mana hati setiap Mukmin tergerak untuk bersedekah lebih banyak, membaca Al-Qur'an lebih getol, dan qiyamullail. Sehingga dapat dikatakan bahwa Ramadhan merupakan 'musim seminya' Al-Qur'an. Lebih dari itu semua, keagungan dan keberkahan Ramadhan karena memiliki satu malam yang nilai ibadah di dalamnya lebih baik dari 1.000 bulan, yakni malam Laitul Qadar. Hal ini secara gamblang dijelaskan oleh Allah SWT: "Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur'an pada malam Laitul Qadar. Tahukah kalian apa Lailatul Qadar itu? Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun para malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu penuh kesejahteraan sampai terbitnya fajar." (Qs. Al-Qadr [97]: 1-5). Sungguh, malam Lailatul Qadar itu merupakan bonus ibadah bagi setiap Mukmin. Secara matematis, 1.000 bulan itu sekitar 84 tahun. Padahal umur manusia (umat Islam) jarang yang mencapai angka itu. Tapi, jika ibadah pada malam Lailatul Qadar itu benar-benar (dilakukan) karena mengharap ridha Allah, maka nilainya lebih baik dari ibadah yang dilakukan selama 1.000 bulan. Oleh karena itu, Nabi SAW memberikan contoh bagaimana agar setiap Muslim bersungguh-sungguh beribadah di sepuluh akhir Ramadhan. Dalam Hadits yang diriwayatkan dari Aisyah ra. beliau bersabda, "Carilah malam Lailatul Qadar itu pada malam ganjil di sepuluh hari terakhir
pada bulan Ramadhan." (Dikeluarkan oleh Imam Bukhari dalam bab keutamaan
'Lailatul Qadar'/2020). Oleh karenanya, beliau menganjurkan agar setiap Mukmin
yang berpuasa dapat menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan penuh keimanan dan
keikhlasan (perhitungan), "…barangsiapa yang menghidupkan malam Lailatul
Qadar dengan penuh keimanan dan keikhlasan (perhitungan), maka dosanya yang
telah lalu diampuni." (Dikeluarkan oleh Imam Bukhari dalam bab keutamaan
Lailatul Qadar/2014).
Kedua, pelipatgandaan pahala kebaikan. Ramadhan merupakan bulan yang menjadikan nilai seorang hamba berlipat-lipat. Pahala sunnah dinilai sebagai pahala amal yang wajib, yang dikerjakan pada bulan lain. Bahkan, satu kebaikan dibalas dengan 70 kebaikan. Luar biasa!
Ketiga, bulan kesabaran. Proses imsâk yang dilakukan bagi setiap orang yang puasa, mulai terbit fajar hingga terbenam matahari merupakan sebuah proses pembentukan karakter sabar. Satu perbuatan yang sangat dicintai oleh Allah SWT. Pada bulan inilah setiap Mukmin yang berpuasa digembleng untuk menjadi seorang yang ulet dan tahan uji. Sehingga Nabi SAW menyatakan bahwa balasan sabar adalah surga. Hal ini sangat paralel dengan firman Allah: "Jadikanlah sabar dan shalat itu sebagai penolong kalian, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar." (Qs. Al-Baqarah [2]: 153).
Keempat, Ramadhan merupakan bulan 'semangat sosial'. Seorang yang melakukan puasa merupakan orang yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Empati mereka benar-benar tampak nyata. Tidak dapat dipungkiri bahwa kegiatan bersedekah dan berderma pada bulan Ramadhan sangat fenomenal. Maka tidak heran, jika sejak awal puasa, para ulama membolehkan pembayaran zakat fitrah. Ini merupakan bentuk konkret dari 'kepekaan sosial'. Karena ternyata, seorang Mukmin yang berpuasa diajak langsung praktek merasakan lapar dan dahaga, sebagaimana yang dirasakan oleh para fakir-miskin. Bahkan, orang yang memberikan bukaan kepada orang yang berpuasa akan menjadi ampunan dosa, dibebaskan dari api neraka dan memperoleh pahala seperti pahala orang yang melakukan puasa itu sendiri. Lebih untung lagi, ternyata pahala yang berpuasa itu tidak berkurang sedikitpun.
Kelima, Ramadhan memiliki tiga bagian penting: rahmat, ampunan (maghfirah) dan pembebasan dari api neraka. Tentunya, untuk memperoleh ketiga substansi puasa tersebut, seorang Mukmin harus benar-benar memurnikan niat dan membulatkan ikhtiarnya: untuk mempersembahkan ibadah yang terbaik kepada Allah. Dengan demikian, seorang Mukmin tidak bisa bertindak pragmatis: memilah dan memilih bagian dari ketiga substansi tersebut. Ia harus dilalui secara berurutan. Dengan demikian, pembebasan dari api neraka tidak akan tercapai, sebelum diperolah maghfirah Allah SWT. Dan maghfirah ini tidak akan direngkuh, sebelum mendapatkan rahmat (kasih sayang) Allah SWT. Ketiga subtansi itu tidak bisa dipisahkan, karena puasa merupakan hak prerogatif Allah, "Setiap amalan Anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Puasa adalah milik-Ku dan aku (sendiri) yang akan membalasnya." (Hadits Qudsi. Hadits Qudsi ini diriwayatkan dari Abdullah ibn Muhammad, dari Hisyâm, dari Ma`mar, dari az-Zuhrî, dari Ibnu al-Musayyab, dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW).
Khutbah Nabi SAW adalah khutbah yang ditujukan kepada kita. Seolah-olah beliau berdiri di hadapan kita: memberikan tuntunan dalam menyambut sang tamu agung. Kita berharap khutbah beliau menjadi pedoman komplit sebelum 'sang tamu agung' datang ke hadapan kita. Dengan demikian, lahir dan batin kita telah siap menerima kehadirannya. Wallâhu a`lamu bi as-shawâb!
Kedua, pelipatgandaan pahala kebaikan. Ramadhan merupakan bulan yang menjadikan nilai seorang hamba berlipat-lipat. Pahala sunnah dinilai sebagai pahala amal yang wajib, yang dikerjakan pada bulan lain. Bahkan, satu kebaikan dibalas dengan 70 kebaikan. Luar biasa!
Ketiga, bulan kesabaran. Proses imsâk yang dilakukan bagi setiap orang yang puasa, mulai terbit fajar hingga terbenam matahari merupakan sebuah proses pembentukan karakter sabar. Satu perbuatan yang sangat dicintai oleh Allah SWT. Pada bulan inilah setiap Mukmin yang berpuasa digembleng untuk menjadi seorang yang ulet dan tahan uji. Sehingga Nabi SAW menyatakan bahwa balasan sabar adalah surga. Hal ini sangat paralel dengan firman Allah: "Jadikanlah sabar dan shalat itu sebagai penolong kalian, sesungguhnya Allah bersama orang-orang yang sabar." (Qs. Al-Baqarah [2]: 153).
Keempat, Ramadhan merupakan bulan 'semangat sosial'. Seorang yang melakukan puasa merupakan orang yang memiliki kepekaan sosial yang tinggi. Empati mereka benar-benar tampak nyata. Tidak dapat dipungkiri bahwa kegiatan bersedekah dan berderma pada bulan Ramadhan sangat fenomenal. Maka tidak heran, jika sejak awal puasa, para ulama membolehkan pembayaran zakat fitrah. Ini merupakan bentuk konkret dari 'kepekaan sosial'. Karena ternyata, seorang Mukmin yang berpuasa diajak langsung praktek merasakan lapar dan dahaga, sebagaimana yang dirasakan oleh para fakir-miskin. Bahkan, orang yang memberikan bukaan kepada orang yang berpuasa akan menjadi ampunan dosa, dibebaskan dari api neraka dan memperoleh pahala seperti pahala orang yang melakukan puasa itu sendiri. Lebih untung lagi, ternyata pahala yang berpuasa itu tidak berkurang sedikitpun.
Kelima, Ramadhan memiliki tiga bagian penting: rahmat, ampunan (maghfirah) dan pembebasan dari api neraka. Tentunya, untuk memperoleh ketiga substansi puasa tersebut, seorang Mukmin harus benar-benar memurnikan niat dan membulatkan ikhtiarnya: untuk mempersembahkan ibadah yang terbaik kepada Allah. Dengan demikian, seorang Mukmin tidak bisa bertindak pragmatis: memilah dan memilih bagian dari ketiga substansi tersebut. Ia harus dilalui secara berurutan. Dengan demikian, pembebasan dari api neraka tidak akan tercapai, sebelum diperolah maghfirah Allah SWT. Dan maghfirah ini tidak akan direngkuh, sebelum mendapatkan rahmat (kasih sayang) Allah SWT. Ketiga subtansi itu tidak bisa dipisahkan, karena puasa merupakan hak prerogatif Allah, "Setiap amalan Anak Adam adalah untuknya, kecuali puasa. Puasa adalah milik-Ku dan aku (sendiri) yang akan membalasnya." (Hadits Qudsi. Hadits Qudsi ini diriwayatkan dari Abdullah ibn Muhammad, dari Hisyâm, dari Ma`mar, dari az-Zuhrî, dari Ibnu al-Musayyab, dari Abu Hurairah, dari Nabi SAW).
Khutbah Nabi SAW adalah khutbah yang ditujukan kepada kita. Seolah-olah beliau berdiri di hadapan kita: memberikan tuntunan dalam menyambut sang tamu agung. Kita berharap khutbah beliau menjadi pedoman komplit sebelum 'sang tamu agung' datang ke hadapan kita. Dengan demikian, lahir dan batin kita telah siap menerima kehadirannya. Wallâhu a`lamu bi as-shawâb!
Ciri-ciri Malam Lailatul Qodar - Ibadah puasa
merupakan ibadah yang wajib bagi setiap muslim, dalam ibadah puasa seorang
muslim tentunya juga menantikan malam lailatul qadar. Dalam ajaran islam malam
lailatul qadar adalah malam yang penuh kemuliaan, yang kemuliaan tersebut
hanya bisa didapatkan oleh orang yang benar-benar mencari dan menantikan
malam lailatul qadar.
Lailatul Qadar atau Lailat Al-Qadar (malam ketetapan) adalah satu malam penting yang terjadi pada bulan Ramadan, yang dalam Al Qur'an digambarkan sebagai malam yang lebih baik dari seribu bulan. Dan juga diperingati sebagai malam diturunkannya Al Qur'an. Deskripsi tentang keistimewaan malam ini dapat dijumpai pada Surat Al Qadar, surat ke-97 dalam Al Qur'an.
Diantara kita mungkin pernah mendengar TANDA-TANDA MALAM LAILATUL QADAR yang telah tersebar di masyarakat luas. Sebagian kaum muslimin awam memiliki beragam khurofat dan keyakinan bathil seputar tanda-tanda lailatul qadar,
Nabi shallallahu’alaihi wa sallam pernah mengabarkan kita di beberapa sabda beliau tentang TANDA-TANDA DATANGNYA LAILATUL QODAR, yaitu:
1. Udara dan suasana pagi yang tenang
Ibnu Abbas radliyallahu’anhu berkata: Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam
bersabda:
“Lailatul qadar adalah malam tentram dan tenang, tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin, esok paginya sang surya terbit dengan sinar lemah berwarna merah” (Hadist hasan)
2. Cahaya mentari lemah, cerah tak bersinar kuat keesokannya
Dari Ubay bin Ka’ab radliyallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Keesokan hari malam lailatul qadar matahari terbit hingga tinggi tanpa sinar bak nampan” (HR Muslim)
3. Terkadang terbawa dalam mimpi
Seperti yang terkadang dialami oleh sebagian sahabat Nabi radliyallahu’anhum.
4. Bulan nampak separuh bulatan
Abu Hurairoh radliyallahu’anhu pernah bertutur: Kami pernah berdiskusi tentang lailatul qadar di sisi Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam, beliau berkata :
“Siapakah dari kalian yang masih ingat tatkala bulan muncul, yang berukuran separuh nampan.” (HR. Muslim)
5. Malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan)
Sebagaimana sebuah hadits, dari Watsilah bin al-Asqo’ dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam :
“Lailatul qadar adalah malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan)” (HR. at-Thobroni dalam al-Mu’jam al-Kabir 22/59 dengan sanad hasan)
6. Orang yang beribadah pada malam tersebut merasakan lezatnya ibadah, ketenangan hati dan kenikmatan bermunajat kepada Rabb-nya tidak seperti malam-malam lainnya.
Demikian postingan tentang Tanda - Tanda Malam Lailatul Qodar. semoga bermanfaat.....
“Lailatul qadar adalah malam tentram dan tenang, tidak terlalu panas dan tidak pula terlalu dingin, esok paginya sang surya terbit dengan sinar lemah berwarna merah” (Hadist hasan)
2. Cahaya mentari lemah, cerah tak bersinar kuat keesokannya
Dari Ubay bin Ka’ab radliyallahu’anhu, bahwasanya Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam bersabda:
“Keesokan hari malam lailatul qadar matahari terbit hingga tinggi tanpa sinar bak nampan” (HR Muslim)
3. Terkadang terbawa dalam mimpi
Seperti yang terkadang dialami oleh sebagian sahabat Nabi radliyallahu’anhum.
4. Bulan nampak separuh bulatan
Abu Hurairoh radliyallahu’anhu pernah bertutur: Kami pernah berdiskusi tentang lailatul qadar di sisi Rasulullah shallahu’alaihi wa sallam, beliau berkata :
“Siapakah dari kalian yang masih ingat tatkala bulan muncul, yang berukuran separuh nampan.” (HR. Muslim)
5. Malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan)
Sebagaimana sebuah hadits, dari Watsilah bin al-Asqo’ dari Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam :
“Lailatul qadar adalah malam yang terang, tidak panas, tidak dingin, tidak ada awan, tidak hujan, tidak ada angin kencang dan tidak ada yang dilempar pada malam itu dengan bintang (lemparan meteor bagi setan)” (HR. at-Thobroni dalam al-Mu’jam al-Kabir 22/59 dengan sanad hasan)
6. Orang yang beribadah pada malam tersebut merasakan lezatnya ibadah, ketenangan hati dan kenikmatan bermunajat kepada Rabb-nya tidak seperti malam-malam lainnya.
Demikian postingan tentang Tanda - Tanda Malam Lailatul Qodar. semoga bermanfaat.....
Tidak ada komentar:
Posting Komentar